Materi Dakwah - Hijrah di Tahun Baru Islam (Muharrom) 1438 H.

 السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَلّذِيْ اَمَرَنَا بِهِجْرَةِ فِي سَبِيْلِ اللهِ والصّلاة والسّلام على خير الانام سيّدنا ونبيّنا وقرّة اعيوننا محمّد الى اخر الايام. (امّا بعد)
Hadirin Rohimakumullah,
Segala puji milik Alloh, tuhan sealam jagat, rajanya raja, dan Kholiqu Khoiril Anam. Yang mana atas Irodah dan Qudrot-Nya lah kita semua mendapat limpahan Taufiq untuk bertemu dan berkumpul dalam rangka menyambut dan memperingati TAHUN BARU ISLAM (HIJRIYAH) 1438 H. yang mana pastilah berkaitan erat sekali topik tersebut dengan yang namanya hijrah Rosululloh SAW.
Sholawat dan salam-Nya semoga tetap dicurah limpahkan kepada Habib tertinggi anti korupsi, habib tercinta anti durhaka, ya’ni Nabiullah Muhammad SAW.
Hadirin Rohimakumullah,
Berbicara tentang bulan Muharrom, maka kita semua sebagai muslim akan diingatkan dengan ribuan peristiwa yang penomenal dan sangat bersejarah. Tegak dan kokohnya islam dimuka bumi ini dan juga pada bulan muharrom ini sering diistilahkan dengan 3 kategori Bahasa yang kesemuanya sangat penting artinya bagi perkembangan islam dan kita sebagai umat islam patutlah memperingati dan menghidupkan kebali kisi-kisi dari 3 kejadian tersebut serta kita dapat mengambil satu hikmah dengan peringatan ini. Sebagaimana firman Alloh telah menjelaskan:

“begitulah, barang siapa yang mengagungkan syi’ar agama Allah maka sesungguhnya perbuatan itu dari sebagian taqwanya hati.”
Ketiga peringatan yang terjadi pada bulan Muharrom itu adalah:
1.    Peringatan menyambut datangnya tahun baru islam
2.    Peringatan atas kemenangan islam
3.    Peringatan atas hijrahnya Rosululloh
Namun, dari ketiga kategori diatas yang ingin saya bahas adalah mengenai peringatan hijrahnya Rosulullah SAW, kenapa saya mengambil tema itu? Karena terjadinya permulaan tahun baru islampun bermula dari Hijrahnya Rosulullah saw.
Hadirin Rohimakumulloh,
Haqiqat hijrah Rosulullah saw tujuannya adalah untuk sebuah ekspedisi atau sebuah perjalanan guna mencari lahan dan tempat yang baru, guna mengenalkan syare’at agama Allah secara Kaffah. Sampai Rosulullah mengadakan 3 kali perjalanan, yang pertama Tho’if, tapi beliau disana tidak mendapatkan sambutan dari masyarakat tho’if bahkan cacian dan lemparan kotoran onta yang beliau dapatakan. Yang kedua, kedaerah Habsyi dan akhirnya ke daerah Madinah. Dan disanalah beliau memulai menyebarkan islam dan menyebarkan secara Kaffah, adapun hadits Rosulullah saw yang berbunyi:
لاَهِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنَّ الجِهَادَ وَالنِّيّةَ
“tidak ada hijrah sesudah futuh mekkah, kecuali jihad dan niat.”
Hadits diatas menunjukan bahwa hijrah yang dimaksud adalah tidak ada lagi pada zaman sesudah terjadinya futuh mekkah hijrah ke kota Madinah, tapi yang ada sekarang adalah nilai2 dan semangat jihad membela agama Allah, yang disertai dengan niat yang tulus hanya karena ingin mendapatkan Mardhotillah. Dimana proses perjalanan hijrah yang diajarkan oleh Baginda Rosulullah Muhammad saw adalah pemberangkatannya minalloh, jalannya menepi perjalanan Fii Sabiilillah, dan tujuan terakhirnya adalah illalloh.
Maka apabila proses perjalanan hijrah memnuhi seperti anjuran Rosul, maka apa yang dijanjikan Allah didalam Suroh An-Nisa ayat 100 akan diturunkan ke setiap manusia yang hijrah menurut urgensi sebagaimana firmannya:
۞وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ١٠٠
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Hadirin Rohimakumullah,
Jikalau kita ketahui rangkaian perjalanan hijrah Rosulullah saw bersama para Shohabatnya ternyata banyak sekali rintangan dan godaannya.
Perjalanan hijrah bukanlah suatu perjalanan yang harus tanpa rintangan, yang dipenuhi dengan taburan bunga dikanan kiri, tapi adalah merupakan rangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan penak dan duri, jurang nan dalam dan tebing yang tinggi yang mesti dihadapi.
Dan hanya manusia yang bejiwa jihadlah yang dapat melakukannya, karena pada dasarnya bukan manusia yang dapat melakukan hijrah untuk menyebarkan syare’at islam adalah manusia yang didalam dadanya tertanam rasa cinta kepada Allah swt dan Rosul-Nya. Dan manusia seperti itulah yang menduduki tempat terhormat dihadapan Allah, firman Alloh dalam surat An-Nisa ayat 95 menjelaskan;
لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡقَٰعِدُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ غَيۡرُ أُوْلِي ٱلضَّرَرِ وَٱلۡمُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ فَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ عَلَى ٱلۡقَٰعِدِينَ دَرَجَةٗۚ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَفَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ عَلَى ٱلۡقَٰعِدِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٩٥
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar:.
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh,
Marilah kita tengok sebuah perjalanan sejarah seorang sahabat rosul yang mengikuti hijrah bersama Rosulullah dia adalah Sohib bin Umer, seorang pemuda ganteng dikalangan pemuda arab yang hidup ditengah-tengah keluarga yang serba ada pada saat terjadi panggilan Allah dan Rosul-Nya untuk berhijrah, sohib bercerita dan mohon pamit pada ayahnya, tapi bagaimanakah tanggapan ayahnya dia malah berkata “wahai sohib anakku, kau pilih aku sebagai ayahmu atau Muhammad? Jikalau engkau pilih tetap bersamaku, maka semua harta dan kekayaanku dan fasilitas yang tersedia akan ku berikan kepadamu, tapi jika engkau pilih hijrah bersama Muhammad maka engkau tidak aku anggap lagi sebagai anakku dan tidak boleh membawa harta secuil apapun.” Tetapi akhirnya sohib memilih hijrah bersama Nabi Muhammad saw, apa  yang menjadi masalah dasarnya? Yaitu dimulai dari tertanam nilai-nilai keimanan dan semangat yang tinggi. Pada saat sohib meninggal pun karena tertusuk pedang musuh, Rosululloh melihat kejadian itu meneteskan air mata, tapi bukan karena sohib mati, melainkan rosul haru dan kagum melihat seorang pemuda yang terlahir dari saudagar kaya menemui ajalnya dimedan jihad dengan pakaian yang hanya menempel dibadan.
Itulah sebuah perjalanan hijrah yang hebat dan wajib menjadi I’tibar bagi kita semua.
Ma’asyirol Muslimin Rohimakumulloh,
Kesimpulannya, yang dapat kita ambil dari perjalanan hijrah Rosulullah saw adalah bahwa sesungguhnya pada dasarnya, tujuan hijrah itu untuk mencari daerah baru guna mengamalkan syare’at agama islam sercara Kaaffah dan perjalanan hanya akan terbukti pada sosok tubuh sorang muslim yang mempunyai nilai2 keimanan dan semangat jihad untuk menegakkan islam. Untuk itu, melalu peringatan ini saya mengajak kepada hadirin semua marilah kita tingkatkan semangat juang kita tuk membela islam sebagai satu-satunya manhaj yang dapat mengantarkan umat manusia pada gerbang mardhotillah.
Sekian dari saya, kekurangan semata-mata hanyalah dari diri saya peribadi, kelebihan dan kemanfaatannya haqiqat dari Alloh swt.
والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Komentar